Pages

Sunday, 17 October 2010

PEMBUATAN DAN PENGENCERAN LARUTAN SERTA REAKSI ASAM BASA

2.1.    Pendahuluan
2.1.1 Tujuan percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk pembuatan larutan NaOH dan dari larutan CH3COOH serta pengenceran larutan, menghitung konsentrasi larutan dengan beberapa satuan. Serta menentukan konsentrasi larutan assam dengan larutan Na2CO3.

2.1.2 Latar belakang
Mahasiswa diharapkan mampu membuat larutan dan dari larutan yang pekat serta pengencerannya. Selain itu, seorang mahasiswa juga diharapkan dapat menghitung dan menentukan konsentrasi larutan dengan beberapa satuan ataupun yang tidak diketahui dengan titrasi. Hal ini agar mahasiswa tidak hanya pintar dalam teoritis tetapin juga pintar dalam segi praktisdan penerapan dalam kehidupan baik bagi industri besar, kecil atau menengah. Hal ini sangat menguntungkan bagi sebuah perusahaan, dimana sebuah perusahaan tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk membeli suatu bahan kimia. Cukup hanya dengan bahan-bahan yang memiliki konsentrasi tinggi. Sehingga dapat meminimalisasi pengeluaran.



2.2     Dasar Teori
Unsur merupakan zat-zat yang tidak dapat diuraikan menjadi zat lain yang lebih sederhana oleh reaksi kimia biasa. Unsur berfungsi sebagai zat pembangun untuk semua zat-zat kompleks yang akan dijumpai. Senyawa merupakan zat yang terdiri dari dua atau lebih unsur dan untuk masing-masing senyawa individu selalu ada dalam proporsi massa yang sama. Unsur dan senyawa yang dianggap sebagai zat murni karena komposisinya selalu tetap. Sebaliknya, campuran komposisinya dapat berubah-ubah (James E. Brady, 1999 : 35-36).
Larutan adalah campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut. Pelarut yang umumnya digunakan adalah air. Untuk menyatakan banyaknya zat pelarut dan terlarut dikenal istilah konsentrasi. Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara seperti persen berat (% w/w), persen volume (%v/v), molaritas, molalitas, ppm, fraksi mol, dan lain-lain (Anonim, 2009 : 25).
Persen berat, system ini menunjukan jumlah dari gram zat terlarut per seratus gram larutan. Secara matematis hal ini dinyatakan sebagai berikut :
                             P = w/(w+w0)×100%                  …(2.1)       
dimana P adalah persen berat zat terlarut, w adalah jumlah gram zat terlarut, dan w0 adalah jumlah gram zat pelarut (Day/Underwood, 2002 : 49 ).
    Persen volume, didefinisikan sebagai banyaknya ml zat terlarut dalam seratus ml larutan. Dapat dirumuskan menjadi :
                 % V =  (volume solut)/(volume solven)×100                                                         …(2.2)             
(Chairul Irawan, Abu Bakar Tuhuloula, Hesti Wijayanti, 2007 : 68).
Molaritas, sistem konsentrasi ini berdasarkan pada volume dan dapat dipergunakan secara nyaman dalam prosedur laboratorium, dimana volume dari larutan adalah kuantitas yang diukur. Hal ini didefinisikan secara sisematis sebagai sebagai berikut :
                                     M =  n/V                                                                  ...(2.3)              
dimana M adalah molaritas, n adalah jumlah mol, dan V adalah volume lrutan dalam liter ( Day/Underwood, 2002 : 46-47 ).
     Molalitas, didefinisikan sebagai jumlah mol solut per kg solven. Berarti merupakan perbandingan antara jumlah mol solute dengan massa solven dalam kg.
                                   molalitas = (g solut)/Mr×1000/(g solven)       …(2.4)
(Chairul Irawan/Abubakar Tuhuloula/Hesti Wijayanti, 2007 : 70 )
     Part per million, ini adalah system yang simpel untuk menunjukan konsentrasi dari suatu  larutan yang amat terurai. System ini menunjukkan jumlah bagian suatu larutan dalam satu juta bagian larutan dan dapat dinyatakan secara matematis sebagai berikut :
                                   ppm =  w/(w+w0 )×〖10〗^6       …(2.5)
dimana w adalah jumlah gram zat dan w0 jumlah gram zat pelarut. Karena biasanya w amat kecil untuk dibandingkan dengan w0, hal ini menjadikan :
                                  ppm =  w/w0×〖10〗^6                                                …(2.6)
(Day/Underwood, 2002 : 50)
Fraksi mol adalah suatu perbandingan banyaknya mol suatu zat dengan jumlah mol seluruh zat yang ada dalam campuran tersebut. Bila fraksi mol kita beri tanda x maka fraksi mol zat A dalam larutan dinyatakan sebagai xA.
                     x_A  =  n_A/(n_A+n_B+n_(C….) )                                                     …(2.7)
(Chairul Irawan/Abubakar Tuhuloula/Hesti Wijayanti, 2007 : 69 )
Dalam pekerjaan sehari-hari di laboraturium biasanya digunakan larutan yang lebih rendah konsentrasinya dengan menambah pelarutnya. Banyak laboraturium kimia membuat larutan senyawa kimia yang pekat dengan menambah akuades. Sebab cara inilah yang sangat ekonomis, biasanya larutan ini sangat pekat dan harus diencerkan. Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambah pelarut agar diperoleh volume akhir yang besar (James E.Brady, 1999 : 102).
Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentuharus diperhatikan :
    Apabila dari padatan, pahami terlebih dahulu satuan yang akan diinginkan. Berapa volume atau massa larutan yang akan dibuat.
    Apabila larutan yang lebih pekat, sesuaikan satuan konsentrasi larutan yang diketahui dengan satuan yang diinginkan, jumlah zat terlarut sebelum dan sesudah pengenceran adalah sama
(Anonim, 2009 : 26)
Terkadang analis menimbang sejumlah banyak sampel dari standar primer atau sesuatu yang belum diketahui, melarutkannya dalam satu labu volumetric, dan mengambil sebagian larutan dengan menggunakan pipet. Porsi yang diambil dengan pipet ini dinamakan alikoat. Alikoat adalah seporsi dari keseluruhan yang diketahui, biasanya berupa beberapa fraksi yang sederhana. Proses pengenceran menjadi volume yang diketahui dan menghilangkan satu porsi titrasi dinamakan mengambil alikoat. Prosedur laboraturium dalam kimia analitik sering kali mensyaratkan pengambilan alikoatdari sebuah larutan standard an mengencerkannya menjadi volume yanglebih besar dalam  botol volumetrik. Teknik ini terutama berguna dalam prosedur spektrofotometrik untuk menyesuakan konsentrasi zat terlarut sehingga galat pengukuran absorbansi larutkan dapat diminimalkan. Perhitungan yang melibatkan pengenceran bersifat langsung dan simpel. Karena tidak ada reaksi kimia terjadi, jumlah mol larutan dalam larutan asli harus sama dengan mol dalam larutan final (Day/Underwood, 2002 : 53).
Biasanya pada larutan asam / basa pekat, pada labelnya tidak diberikan informasi mengenai konsentrasi larutan tersebut tetapi hanya diberikan beberapa informasi penting seperti pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Informasi yang terdapat pada label larutan asam /basa pekat
Jenis    REAGEN
Informasi    HCl    HNO3    H2SO4    CH3COOH    H3PO4    NH4OH
Mr    36,46    63,02    98,08    60.03    98,00    35,04
%konsentrasi    36,00    69,50    96-97    99,50    88,00    58,60
M.jenis    1,19    1,42    1,84    1,06    1,75    0,90
(Anonim, 2009 : 26)
Melalui proses ini mol solut tetap konstan dan hanya volumenya yangbertambah. Hal ini merupakan masalah yang dihadapi dalam pekerjaan yang berkaitan dengan pengenceran. Karena jumlah mol solute tetap sama selama pengenceran maka hasil perkalian molaritas dan volume senyawa yang diinginkan M1V1 harus sama dengan hasil akhir senyawa tersebut. Maka
    M_1 V_1  = M_f V_F                                                                               …(2.8)
(James E. Brady, 1999 : 103)
Setelah sesuatu larutan dipersiapkan dan konsentrasinya telah ditentukan secara tepat, larutan ini dapat digunakan sebagai titran dalam menentukan kemurnian suatu sampel yang tidak diketahui. Proses dimana konsentrasi larutan ditentukan secara akurat dinamakan standardisai. Suatu larutan standar terkadang dapat dipersiapkan dengan menguraikan suatu sampel dari zat terlarut yang diinginkan dan menimbang secara akurat dalam suatu larutan yang volumenya diukur secara akurat. Metode ini pada umumnya tidak dapat diterapkan, karena bagaimanapun juga jarang reagen kimiawi yang diperoleh dalam bentuk murni untuk memenuhi kebutuhan analis dalam hal keakuratan. Segelintir substansi yang memadai untuk hal ini disebut standar primer. Dimana larutan tersebut dengan sejumlah standar primer ditimbang (Day/ Underwood, 2002 : 50).
Standar primer harus memenuhi karakteristik sebagai berikut :
    Harus tersedia dalam bentuk murni, atau dalam sustu tingkat kemurnian yang diketahui.
    Substansi tersebut harus stabil.
    Yang diinginkan adalah standar primer tersebut mempunyai berat ekuivalen yang cukup tinggi.
(Unggul Sudarmo, 2006 : 151)
Dalam suatu reksi titrasi diperlukan suatu indikator untuk menunjukkan perubahan pada titrat. Beberapa jenis indikator yang biasa digunakan dapat dilihat pada Tabel 2.2.





Table 2.2 Jenis-Jenis Indikator   
No    Indikator    Range pH
1.    Metal jingga    3,1 – 4,4
2.    Metal merah    4,2 – 6,2
3.    Lakmus     4,5 – 8,3
4.    Metal ungu    4,8 – 5,4
5.    p- Nitrofenol    5,6 – 7,6
6.    Bromtimol biru    6,0 – 7,6
7.    Fenol merah    6,8 – 8,4
8.    Fenolphtalein    8,0 – 9,6
9.    Timolphtalein    9,3 – 10,6
(Day/ Underwood, 2002 : 143).









2.3   Metodologi
2.3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah Erlenmeyer, buret, gelas piala, labu takar, pipet tetes, pipet mohr, pipet gondok, propipet, sudip, pengaduk, gelas arloji, termomrter, botol semprot, gelas ukur.










Gambar 2.1

    Bahan
Bahan-bahan yang digunakan yaitu H2SO4 0,1 N, NaOH 0,1 N (dalam bentuk kristal dan larutan), CH3COOH, Na2CO3 0,1 M, indicator phenolphthalein, indicator metal merah serta akuades.

    Prosedur Kerja
    Pembuatan larutan CH3COOH
    Menimbang labu takar 100 ml kosong (a gram), mengisi labu takar 100 ml dengan akuades sampai kira-kira ¾-nya. Kemudian menimbang kembali (b gram) dan mengukur suhunya (t1)
    Menimbang gelas ukur kosong (c gram), mengisi gelas ukur tersebut dengan larutan CH3COOH pekat 4 ml, kemudian menimbangnya kembali (d gram) dan mengukur suhunya (t2)
    Menuangkan CH3COOH pekat dengan perlahan-lahan dan hati-hati kedalam labu takar, dan menambahkan kembali sejumlah akuades hingga batas tera. Mengocok campuran tersebut agar homogeny. Menimbang kembali kembali campuran tersebut (c gram) dan mengukur suhunya kembali (t3)
    Menentukan sifat pelarutan asam asetat dan konsentrasinya dalam satuan %(w/w),  %(v/v), molaritas, molalitas, ppm, dan fraksi mol.
   
    Pembuatan larutan NaOH
    Menimbang Kristal NaOH 0,4 gram dan melarutkannya dalam gelas piala dengan sedikit air yang baru dihangatkan
    Merasakan apakah larutan terasa lebih hangat, tetap, atau lebih dingi dari sebelumnya
    Memindahkan larutan tersebut kedalam labu takar 100 ml
    Mengencerkan dan menepatkan larutan hingga batas tera dengan menambah sejumlah akuades, kemudian mengocoknya supaya homogen
    Menentukan konsentrasi NaOH yang dibuat dalam molaritas dan %(w/v).

    Pengenceran larutan CH3COOH
    Memipet 10 ml larutan CH3COOH yang telah dibuat pada prosedur 3.3.1. kemudian memasukkannya kedalam labu takar 100 ml
    Mengencerkannya dengan menambah akuades tepat pada batas tera pada labu takar 100 ml, dan mengocoknya supaya homogen
    Menentukan konsentrasi CH3COOH hasil pengenceran.

2.3.3.4 Titrasi asam terhadap basa (H2SO4 0,1 N terhadap NaOH 0,1 N)
    Mengambil 20 ml larutan NaOH, memasukkannya kedalam Erlenmeyer
    Menambahkan indicator metil merah 2-3 tetes
    Mengisi buret dengan larutan H2SO4 dan mencatat volume awal pada buret
    Menitrasi larutan NaOH dengan larutan H2SO4 dan mencatat volume akhir. Titik akhir diperlihatkan jika indicator berubah warna dari kuning menjadi merah muda. Mengulangi titrasi hingga 3 kali. Kemudian merata-ratakan haisl volume yang didapat
    Menghitung konsentrasi larutan NaOH.

2.3.3.5 Titrasi basa terhadap asam (NaOH 0,1 N terhadap H2SO4 0,1 N)
    Mengambil 20 ml larutan H2SO4, memasukkannya kedalam Erlenmeyer
    Menambahkan indicator metil merah 2-3 tetes
    Mengisi buret dengan larutan NaOH dan mencatat volume awal pada buret
    Menitrasi larutan H2SO4 dengan larutan NaOH dan mencatat volume akhir. Titik akhir diperlihatkan jika indicator berubah warna dari merah muda menjadi kuning. Mengulangi titrasi hingga 3 kali. Kemudian merata-ratakan hasil volume yang didapat. Menghitung konsentrasi larutan
    Membandingkan dengan hasil yang didapat, dengan percobaan pertama.

2.3.3.6 Penentuan konsentrasi larutan standar dengan larutan Na2CO3 0,1 M
    Mengambil 15 ml larutan CH3COOH encer yang telah dibuat, memasukkan kedalam labu Erlenmeyer
    Menambahkan 2-3 tetes indicator metil merah. Kemudian menitrasi larutan tersebut dengan standar Na2CO3 0,1 M sampai terjadi perubahan, kemudian mengulanginya 2 kali
    Menghitung molaritas CH3COOH tersebut hingga 4 desimal
    Mengulangi titrasi dengan menggunakan indicator phenolphthalein. Menentukan bagaimana hasilnya, dan mengapa dapat terjadi seperti itu.






2.4    Hasil dan Pembahasan
2.4.1 Pembuatan larutan CH3COOH
Table 2.3 pembuatan larutan CH3COOH
No.    Langkah kerja    Hasil pengamatan
1.    Mengukur labu takar kosong 100ml    m= 66,2 gram
2.    Mengukur labu takar 100ml yang diisi akuades    m=134,8 gram
t1= 300 c
3.    Mengukur gelas ukur kosong    M= 29,6 gram
4.    Mengukur gelas berisi CH3COOH pekat dan mengukur suhunya    M= 33,3 gram
t2= 30,50 c
5.    Memasukkan larutan CH3COOH kedalam labu takar yang berisi akuades   
6.    Menimbang dan mengukur suhu larutan tersebut    m= 163,8 gram
t3=290 c

Pada percobaan ini sebelum dilakukan percobaan pembuatan CH3COOH alat-alat yang digunakan diukur massanya terlebih dahulu. Ini bertujuan untuk menghitung massa CH3COOH, massa akuades, dan massa campuran. Dari data tersebut didapatkan massa CH3COOH adalah 3,7 gram, massa akuades 93,9 gram, dan massa campuran sebesar 97,6 gram.
Dalam pembuatan larutan CH3COOH, 4 ml laruan CH3COOH ditambahkan akuades hingga batas tera pada labu takar 100 ml. pembuatan ini mengguanakan konsep pengenceran. Melalui perhitungan didapatkan  %(w/w),  %(v/v), molaritas, molalitas, ppm, dan fraksi mol dari larutan CH3COOH yaitu sebesar 3,7909 %, 4 %, 0,6167 M, 0,6318 molal, 37.000 ppm 0,0116.
Dalam pengenceran suatu larutan tersebut harus homogeny, maka dilakukanlah pengocokkan terlebih dahulu. Pada percobaan ini juga dilakukan pengukuran suhu. Pengukuran suhu pertama dilakukan pada akuades, suhu akuades yang didapat adalah 300 c. pada larutan  CH3COOH suhu yang didapat adalah 30,50 c. namun setelah dicampur dengan akuades larutan CH3COOH mengalami penurunan suhu menjadi 290 c. hal ini karena larutan bersifat endotermis, menerima panas. Sehingga larutan mendingin. Reaksi yang terjadi yaitu :
CH3COOH(pekat) + H2O                   CH3COOH(encer)

    Pembuatan larutan NaOH
Table 2.4 pembuatan larutan NaOH
No.    Langkah kerja    Hasil pengamatan
1.    Menimbang Kristal NaOH    m =0,4 gram
2.    Menambahkan akuades    NaOH melarut, air menjadi lebih hangat dari sebelumnya.

100 ml akuades terlebih dahulu dihangatkan. Kemudian 0,4 gram NaOH dilarutkan dengan akuades yang telah dihangatkan. Setelah NaOH larut, larutan tersebut menjadi terasa lebih hangat. Hal Ini karena larutan NaOH bersifat eksotermis yaitu melepas panas. Konsentrasi NaOH adalah sebesar 0,1 M. sedangkan % (w/v) adalah 0,4%. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
NaOH(padat) + H2O               NaOH(larutan)

2.4.3    Pengenceran larutan CH3COOH
Tabel 2.4 pengenceran CH3COOH
No.    Langkah kerja    Hasil pengamatan
1.    Memipet larutan CH3COOH (pada percobaan 4.1)    V CH3COOH = 10 ml
2.    Mengencerkan dengan menambah akuades    Larutan mengencer

Pengenceran dilakukan agar volume dapat bertambah tanpa mengurangi jumlah solutnya. Pada percobaan ini konsentrasi CH3COOH yang didapat adalah 0,006167 M, dimana konsentrasi awalnya adalah 0,6167 M. untuk pengenceran hasil perkalian molaritas dengan volume senyawa yang digunakan harus sama dengan hasil akhir senyawa tersebut setelah penenceran. Reaksi kimia yang terjadi yaitu :
CH3COOH(encer) + H2O                     CH3COOH(encer)

    Titrasi asam terhadap basa (H2SO4 0,1 N terhadap NaOH 0,1 N)
Table  2.5 Titrasi asam terhadap basa
No.    Langkah kerja    Hasil pengamatan
1.    Membaca volume awal H2SO4 pada buret    V H2SO4  = 0 ml
2.    NaOH ditambah indikator metil merah    V NaOH = 20 ml
Larutan berwarna kuning
3.    Menitrasi NaOH dengan H2SO4     Titrasi  pertama :
V0 = 0 ml
Vt = 15,8 ml
Titrasi kedua :
V0 = 15,8 ml
Vt = 29,2 ml
Titrasi ketiga :
V0 = 29,2 ml
Vt = 44,6 ml
4.    Setelah dilakukan titrasi    Warna larutan berubah menjadi merah muda

Dalam percobaan ini larutan NaOH ditambahkan indicator terlebih dahulu sebelum dititrasi. Larutan NaOH yang awalnya berwarna kuning berubah warnanya menjadi merah muda setelah dilakukan titrasi dengan H2SO4. Titrasi dilakukan sebanyak tiga kali dan didapat volume rata-rata sebesar 14,67 ml. dari volume rata-rata tersebut dapat diketahui konsentrasi NaOH dalam larutan tersebut adalah 0,0743 N. Reaksi kimia  yang terjadi adalah :
2NaOH +  H2SO4                        Na2SO4 + 2H2O

    Titrasi basa terhadap asam (NaOH 0,1 N terhadap H2SO4 0,1 N)
Tabel 2.6 Titrasi basa terhadap asam
No.    Langkah kerja    Hasil pengamatan
1.    Membaca volume awal NaOH  pada buret    V  NaOH = 1,7 ml
2.     H2SO4 ditambah indikator metil merah    V H2SO4 = 20 ml
Larutan berwarna merah muda
3.    Menitrasi H2SO4  dengan NaOH     Titrasi  pertama :
V0 = 1,7ml
Vt = 31,2 ml
Titrasi kedua :
V0 = 11,1 ml
Vt = 34,2 ml
Titrasi ketiga :
V0 = 34,2 ml
Vt = 75,6 ml
4.    Setelah dilakukan titrasi    Warna larutan berubah menjadi merah kekuningan

Sama  halnya reaksi titrasi asam terhadap basa. Reaksi basa terhadap asam juga melibatkan indicator yang sama yaitu metil merah. Namun pada larutan ini warna yang ditunjukkan adalah warna merah muda dan setelah dilakukan titrasi perubahan warna yang ditunjukkan adalah warna merah kekuningan. Hal ini dikarenakan larutan H2SO4 bersifat asam. Percobaan ini juga dilakukan sebanyak tiga kali dan didapatkan volume rata-rata sebesar 31,33 ml. dari volume rata-rata tersebut dapat diketahui H2SO4 sebesar 0,15665 N. Reaksi kimia yang terjadi adalah :
H2SO4 +     2NaOH                       Na2SO4 + 2H2O

2.4.6      Penentuan konsentrasi larutan standar dengan larutan Na2CO3 0,1 M
Table 4.6 Penentuan konsentrasi larutan standar dengan larutan Na2CO3 0,1 M
No.    Langkah kerja    Hasil pengamatan
1.    Memasukkan larutan CH3COOH (pada percobaan 4.1) kedalam erlenmeyer     V CH3COOH = 15 ml
Larutan bening
2.    Menambahkan 1 tetes indikator metal merah
    Larutan berwarna merah
3.    Menitrasi larutan CH3COOH dengan larutan standar Na2CO3    Titrasi  pertama :
V0 = 14,3ml
Vt = 18,3 ml
Titrasi kedua :
V0 = 18,3 ml
Vt = 22,5 ml
4.    Setelah dilakukan titrasi    Larutan berubah warna menjadi kuning
5.    Menitrasi larutan CH3COOH dengan larutan standar Na2CO3 dengan mengganti indicator phenolphthalein       V CH3COOH = 15 ml
Larutan berwarna bening
Titrasi  pertama :
V0 = 22,5ml
Vt = 30,8 ml
Titrasi kedua :
V0 = 30,8 ml
                        Vt = 36,8 ml
6.    Setelah dilakukan titrasi    Larutan berubah warna menjadi merah muda

Pada percobaan terakhir ini, titrasi ini menggunakan larutan standar Na2CO3. Percobaan dilakukan dengan menggunakan  larutan CH3COOH yang dibuat pada percobaan 3.4 pengenceran CH3COOH, dengan titrasi pertama menggunakan metil merah yang mengubah warna larutan menjadi warna merah muda menjadi  berwarna kuning. Hal ini menunjukkan larutan CH3COOH bersifat asam. Titrasi dilakukan sebanyak dua kali  dan didapat volume rata-rata sebesar 4,1 ml. Konsentrasi larutan CH3COOH diketahui dari perhitungan volume rata-rata tersebut adalah 0,0273 M.
Selanjutnya dilakukan kembali titrasi terhadap larutan CH3COOH, namun indikator diganti dengan indikator phenolphthalein. Untuk indikator larutan tersebut tetap berwarna bening. Namun setelah dilakukan titrasi dengan larutan standar Na2CO3, warna larutan berubah menjadi merah muda. Dari titrasi tersebut didapat volume rata-rata Na2CO3 sebesar 7,15 ml. Dan dapat diketahui konsentrasi  CH3COOH melalui perhitungan sebesar 0,477 M. Reaksi kimia yang terjadi yaitu:
2 CH3COOH (aq)  +  Na2CO3 (aq)                        2  CH3COONa (aq)  +  H2O (l)  +  CO2 (g)











DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009, Penuntun Praktikum Kimia Dasar, Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Teknik, Banjarbaru.

Brady, James E., 1999, Kimia Universitas, Binarupa Aksara, Jakarta.

Chairul Irawan/Abubakar Tuhuloula/Hesti Wijayanti, 2007, Bahan Ajar Kimia Dasar, Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Teknik, Banjarbaru.

Day, R.A.Jr and A.L. Underwood, 2002, Analisis Kimia Kuantitatif, Erlangga, Jakarta.

Sudarmo, Unggul, 2006, Kimia, Phibeta, Jakarta.







       









V. Penutup
    Kesimpulan
    Dalam CH3COOH dengan kemurnian 100% didapatkan massa CH3COOH sebesar 3,7 gram, %(w/w) CH3COOH 3,7909 %, %(v/v) CH3COOH 4 %, molalitas CH3COOH 0,6318 molal, ppm CH3COOH 37.000 ppm , dan fraksi mol CH3COOH 0,0016.
    Dengan 0,4 gram NaOH, dengan volume 100ml akuades, konsentrasi NaOH pada larutan tersebut adalah 0,1 M.
    Konsentrasi larutan CH3COOH dalam volume pengenceran 100 ml adalah 0,05981.
    Pada percobaan titrasi asam terhadap basa, NaOH ditambah metil merah berwarna kuning,setelah dititrasi dengan larutan H2SO4 berubah warnanya menjadi merah muda. Didapat volume rata-rata H2SO4 sebesar 14.867 ml. dengan konsentrasi NaOH 0,0743 M.
    Pada percobaan titrasi basa terhadap asam, H2SO4 ditambah metil merah berwarna merah muda, setelah dititrasi dengan larutan NaOH berubah warnanya menjadi kuning. Didapat volume rata-rata NaOH sebesar 31,33 ml dengan konsentrasi H2SO4 dalam larutan sebesar 0,15665 M.
    Percobaan terakhir penentuan kosentrasi larutan CH3COOH dengan larutan Na2CO3. Titrasi pertama dilakukan dengan indicator metil merah didapatkan konsentrasi  CH3COOH sebesar 0,0273 M. pada titrasi kedua menggunakan indicator phenolphthalein didapatkan konsentrasi CH3COOH sebesar 0,0477 M.

    Saran
Larutan CH3COOH merupakan asam yang mengeluarkan bau sangat menyengat. Oleh karena itu, gunakanlah masker agar tidak terjadi gangguan pada organ saluran pernafasan. Jika larutan atau Kristal-kristal zat mengenai kulit segera cuci dengan sabun atau segera laporkan kepada asisten yang bersangkutan, agar tidak terjadi hal yang lebih membahayakan diri praktikan.
TUGAS
    Apa yang dimaksud dengan larutan standar primer dan larutan standar sekunder ?
Jawab :
Suatu larutan standar dapat dibuatdari sejumlah contoh yang diinginkan, yang ditimbang secara teliti,kemudian melarutkannya kedalam volume larutan yang secara teliti diukur volumenya. Beberapa zat tadi yang memadai dalam hal ini disebut standar primer. Sedangkan standar sekunder merupakan larutan yang telah distandardisasi , dipergunakan kembali untuk mendapatkan konsentrasi dari larutan lainnya.
   
    Syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh suatu zat agar dapat dipergunakan sebagai larutan standar primer ?
Jawab :
Suatu standar primer harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
    Zat itu harus mudah didapat dalam bentuk murni atau dalam keadaan kemurnian yang diketahui dengan tepat
    Zat itu harus mudah dikeringkan dan tidak higroskopik. Tidak berkurang beratnya sewaktu terkena udara
    Zat itu memiliki ekuivalen yang tinggi agar dapat mengurangi konsikwensinya akibat kesalahan dalam penimbangan

    Berikan sifat fisik dan kimia senyawa NaOH dan H2SO4 !
Jawab :
    Sifat fisik dan kimia senyawa NaOH
    Dapat berwujud Kristal dan larutan
    Mudah larut dalam pelarut akuades
    Bersifat endotermis, menerima panas
    Senyawa hidrosi yang bersifat basa
    Akan terasa gatal jika tersentuh kulit
    Sifat fisik dan kimia senyawa H2SO4
    Berwujud cair pada suhu kamar
    Bersifat asam
    Apabila terjadi kontak langsung dengan kulit akan sangat berbahaya



























PERHITUNGAN

    Pembuatan larutan CH3COOH
Diketahui :  m labu takar 100 ml kosong        =  66,2 gram
m labu takar + akuadest         = 134,8 gram
m gelas ukur kosong    =  29,6 gram 
m gelas ukur +  CH3COOH    =  33,3 gram           
m labu ukur + akuades + CH3COOH    = 163,8 gram
V CH3COOH       =  4 ml
BM CH3COOH    =  60  g/mol
BM akuades H2O     =  18  g/mol
Volume pengenceran        =   100 ml = 0,1 L
Ditanya :  1. %(w/w)    =…………?
    2.     %(v/v)    =…………?
     Molaritas    =…………?
     Molalitas    =…………?
      Ppm    =…………?
    Fraksi mol dari larutan CH3COOH    =…………?
         Dijawab : M CH3COOH ={( m.galas ukur + CH3COOH) – m. gelas ukur} x 100 %                        
= {(33,3 gram ) – 29,6 gram } x 100 %
 = 3,7 gram
M campuran   = {(m. labu takar+aquadest CH3COOH ) – m labu                    takar Kosong}
                          = {(163,8 gram ) – 66,2 gram }
                = 97,6 gram
M aquadest    =  (m labu takar + aquadest CH3COOH ) –m. labu takar Kosong + m. CH3COOH )
                = {(163,8) – (66,2 + 3,7)} gram
                = 93,9 gram

    % (w/w)    = (MCH3COOH  )/(M CAMPURAN)×100%= (3,7 GRAM)/(97,6 gram)×100%
                = 3,7909 %

    % (v/v)    = (v CH3COOH )/(v campuran )=4ml/100ml  ×100%
                        =4%

    Molaritas CH3COOH  =  (Mol CH3COOH)/(v CAMPURAN)  =(gram CH3COOH  )/((Mr CH3COOH)/(V CAMPURAN))
            = ((3,7 gram)/(60 gram/mol))/(0,1 L) =0,6167 M

     Molalitas CH3COOH      =  (1000 )/(p )×(m CH3COOH )/(BM CH3COOH )
                 = (1000 gram)/(97,6 gram)×(3,7 gram)/(60 gram/mol)
                                                                 = 0,6318 molal

    ppm    = (m CH3COOH )/(v campuran ( l ))=(3,7〖10〗^3 mg)/(0,1 l)                
       = 37.000 ppm

    Fraksi mol CH3COOH    = (n CH3COOH)/(n CH3COOH+n aquadest)
                        = ((gram CH3COOH)/(BM CH3COOH))/((gram CH3COOH)/(BM CH3COOH)+ (gram aquadest)/(BM aqaadest))
                        = ((3,7 gram )/(60 mol))/((3,7 gram)/(60 mol)+ (94,01 gram)/(18 gram/ mol))
                        = (0,0616 mol)/(0,0616 mol+5,2228 mol)
                 = (0,0616 mol)/(5,2844 mol)=0,0116



    Pembuatan larutan NaOH
Diketahui     :  massa NaoH     = 0,4 gram 
Volume pengeceran     = 100ml = 0,1 L
BM NaoH    = 40 gram/mol
Ditanya :  a) molaritas =…………?   
    b) % (w/v)  = …………?
Dijawab :  a)  molaritas NaoH =    (mol NaoH)/(v pengenceran)= ((gram NaoH)/(Bm NaoH))/(v pengenceran)
                               =   ((0,4 gram )/(40 gram/ mol))/(0,1 L)
= 0,1 M               

            b)  % (w/v)            =   (m NaoH)/(v pengeceran )  ×100%
=(0,4 gram)/(0,1 L)×100%
             = 0,4 %

    Pengenceran larutan CH3COOH
Diketahui : V1    =  10 ml
        M1     = 0,6167 m
V2    = 100 ml
Ditanya : konsentrasi CH3COOH hasil dari pengenceran ( M2) =……….?
Dijawab :           V1M 1   =   V2 M 2
           10  Ml . 0,6167 M = 100 ml . M2   
                  M2  =  (0,6167 m)/100  =0,006167 M

    Titrasi asam terhadap basa (H2SO4 0,1 N terhadap NaOH 0,1 N)
Diketahui :    Titrasi I    = Vo H2SO4 = 0 ml               ∆V1 = ( vt – vo) = 15,8 ml
    Vt H2SO4 = 15,8ml
Titrasi II    =  Vo H2SO4 = 15,8 ml         ∆V2 = ( vt – vo) = 13,4 ml
         Vt H2SO4 = 29,2ml       
    Titrasi III =  Vo H2SO4  = 29,2 ml          ∆V3 = ( vt – vo) = 15,4 ml
Vt H2SO4 = 44,6 ml
                     V H2SO4 rata-rata = 〖Av〗_(1+〖Av〗_(2+〖Av〗_3 ) )/3= (15,8+13,4+15,4)ml/3
     = (44,6 ml)/3=14,867ml
    V NaoH    = 20 ml
    N H2SO4    = 0,1 N
Ditanya : konsentrasi NaoH ( N) =…………?
Dijawab : V NaoH . N NaoH    =  V H2SO4 . N H2SO4   
                                  N NaoH =  (14,867V .0,1 N)/(20 ml)
          =  0,0743 N

    Titrasi basa terhadap asam (NaOH 0,1 N terhadap H2SO4 0,1 N)
Diketahui : Titrasi I    = Vo NaoH = 1,7 ml                   ∆V1= ( vt – vo) = 29,5 ml
                  Vt NaoH = 31,2ml
    Titrasi II =  Vo NaoH  = 11,1 ml                    ∆V2 = ( vt – vo) = 23,1 ml
           Vt NaoH   =  34,2ml       
Titrasi III =  Vo NaoH  = 34,2 ml                 ∆V3= ( vt – vo) = 41,4 ml
    Vt NaoH = 75,6 ml
                    V NaoH rata-rata = 〖∆v〗_(1+〖∆v〗_(2+〖∆V〗_3 ) )/3= (29,5+23,1+41,4)ml/3
             = (94 ml)/3=31,33ml
V NaoH    = 20 ml
    N NaOH              = 0,1 ml
Ditanya : konsentrasi H2SO4 ( N)   =…………?
Dijawab : V NaoH . N H2SO4       =  V NaoH . N NaoH   
                                    N H2SO4 =  (31,33ml .0,1 N)/(20 ml)
                    =  0,15665 N


    Penentuan konsentrasi larutan standar dengan larutan Na2CO3
    Menggunakan metil merah
Diketahui :   Titrasi I    = VoNa2Co3 = 14,3ml             ∆V1= ( vt – vo) = 4 ml
    Vt  Na2Co3 = 18,3ml
Titrasi II  =  Vo Na2Co3 = 18,3 ml          ∆V2 = ( vt – vo) = 4,2 ml
        Vt Na2Co3¬= 22,5ml       
                  V H2SO4 rata-rata = 〖Av〗_(1+〖Av〗_2 )/2= (4+4,2)ml/2=4,1 m
                  V CH3COOH = 15 ml
                     M Na2Co3        = 0,1 M
    Ditanya : konsentrasi CH3COOH ( M) =…………?
    Dijawab : V CH3COOH. M CH3COOH    =    V Na2Co3. M Na2Co3   
                                         M CH3COOH =  (4,1 ML .0,1 m)/(15 ml)
                         =  0,0273 M
    Menggunakan indicator phenolphtalein
Diketahui :   Titrasi I    = VoNa2Co3 = 22,5ml          ∆V1 = ( vt – vo) = 8,3ml
       Vt  Na2Co3 = 30,8ml
    Titrasi II =  Vo Na2Co3 = 30,8 ml         ∆V2 = ( vt – vo) =  6 ml
        Vt Na2Co3¬= 36,8ml       
                       V H2SO4 rata-rata = 〖∆V〗_(1+〖∆V〗_2 )/2= (8,3+6)ml/2=7,15 ml
             V CH3COOH       = 15 ml
            M Na2Co3               = 0,1 M
        Ditanya : konsentrasi CH3COOH ( M) =…………?
        Dijawab : V CH3COOH. M CH3COOH= V Na2Co3. M Na2Co3   
                                              M CH3COOH =  (7,15 ML .0,1 m)/(15 ml)
                               =  0,0477 M

No comments:

Post a Comment